kepada yang bernama kemerdekaan
kepada yang bernama kemerdekaan
kukirim surat cinta ini,
ada yang lirih bersuara
tersekat dalam tenggorokan kemiskinan
terbentur dalam syaraf kebodohan
tertatih dalam kaki kesarjanaan dan tertimpa tangga karir,
lantai pekerjaan dan tembok korupsi.
kepada yang bernama kemerdekaan
kusampai pada waktu yang terlupakan,
kugenggam tanganmu, karena kau pun kan terjatuh
sama dalam bayanganmu dulu, ketika semestinya kita terbebas,
dari belenggu kompeni dan heiho,
ketika semestinya tersenyum, kini atap Indonesia, jalan ibu pertiwi,
berlubang dimana-mana, dan kecoa dan tikus dan lalat dan binatang melata nan berdasi
menggerogoti baju-baju nurani,
menyobek celana-celana budi pekerti
dan kau pun wahai sang kemerdekaan,
tanpa baju tanpa celana
Indonesia kau sulap sebagai lahan perdamaian
bagi para bangsatnya
yang berprilaku korup, amoral, dan menjunjung tinggi egosentrisme
mereka mengibarkan bendera kematian demokrasi
( kepada yang bernama kemerdekaan
kusapa kau,
bersama buku suci uud empat lima, pada pembukaannya,
sebagai pelipur lara bagi kenangan sejarah )
jakarta, 11 desember 2010