ilham membaca dan membaca ilham
ILHAM MEMBACA DAN
MEMBACA ILHAM
Bacalah dengan (menyebut) nama
Tuahanmu Yang menciptakan,
Dia telah menciptakan manusia dari
segumpal darah
Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha
Pemurah,
Yang mengajar (manusia) dengan
perantaraan kalam,
Dia mengajar manusia apa yang tidak
diketahui. QS Al Alaq : 1-5
Seorang anak manusia
terlahir dari rahim ibunya dalam keadaan bersih tanpa goresan, coretan dan
kotoran. Pertama dilahirkan ke bumi dari kandungan ibundanya, ia dalam keadaan
putih, polos, tanpa pengetahuan apa pun. Ia tidak tahu apa pun itu, baik yang
sifatnya informasi, pelajaran, maupun ketrampilan.
Ilmu pengetahuan
(knowledge), sikap (affective) dan ketrampilan (psychomotor) diperoleh melalui
pendidikan, baik oleh ibu dan bapaknya, lingkungannya, maupun oleh gurunya.
Sedangkan bakat dan potensi insaniah
sudah Tuhan anugerahkan semenjak didalam kandungan ibundanya bersamaan ketika
Allah tiupkan ruh pada segumpal daging, sebagai calon anak manusia itu.
Faktor pertumbuhan
dan perkembangan ilmiah, alamiah, dan fisik – non fisik diberikan arahan yang
jelas betapa semua itu ada prosesnya atau bahwa semua hal yang berkaitan dengan
eksistensi manusia dengan pengetahuan, sikap dan ketrampilannya adalah
berproses.
Sebelum semua proses
itu berlangsung sedemikian rupa, langkah awal yang harus dilakukan adalah
“membaca”. Suatu keharusan dimana membaca merupakan asal usul lahirnya berbagai
macam ilmu pengetahuan, sikap,dan ketrampilan.
Demikian juga membaca
merupakan awal dibentuknya sebuah peradaban manusia, sebuah peradaban yang
semestinya terus tercipta dengan berjenjang dan bervariatif, heterogen dan
berkelas, kenyal dan modern. Semua itu akan terwujud kalau “membaca” bukanlah
sekedar membaca an-sich, membaca yang bukan berdasarkan asumsi insaniah semata,
akan tetapi harus menyertakan pemberi ilham / wahyu bagi terlahirnya efek dan
hasil membaca itu sendiri.
Tuhan adalah sang
pencipta, pemberi ilham dan hikmah ketika kita membaca. Oleh karenanya, dalam
membaca haruslah menyertakan Tuhan dalam visi dan misi ketika aktifitas membaca
itu dijalankan.
Tahu dan faham adalah
indikasi bahwa materi bacaan dan penyerapannya telah sampai pada fungsi otak.
Proses pencernaan literasi dan makna isi atau kandungan yang ada didalamnya,
baik yang berbentuk ide, pemikiran, argumentasi, ataupun narasi, menunjukan
keterangannya pada pengetahuan dan pemahaman.
Pembuktian tentang
pengetahuan dan pemahaman yang diserap dalam proses membaca dan menulis, otak
bekerja berdasarkan sensor aktif yang masih berfungsi dan difungsikan. Jika
fungsi otak hanya mengendap pada tataran ide, gagasan, argumentasi, ataupun
narasi semata, maka akan terjadi kebuntuan dalam menangkap makna dan maksud
isis kandungan literasi. Ia terbatas pada pengetahuan dan pemahaman insaniah
yang memang terbatas.
Manusia dalam menerapkan
konsep pengetahuan dan pemahamannya, memerlukan enlightment untuk hidup dan
kehidupannya. Bentuk kongkritnya adalah lahirnya sebuah karya. Karya yang
menyentuh langsung kebutuhan hidup itu sendiri. Kehidupan individu dan
kelompok, masyarakat luas dan tak terbatas jumlahnya, akan merasakan manfaat
yang sangat nyata.
Di sisi inilah
“membaca perlu menyertakan nama Tuhannya yang Maha Menciptakan”. Simple akan
tetapi jelas dan padat, kempleks akan tetapi dimengerti dan difahami, berseri
akan tetapi dirasa manfaatnya, sehingga ditunggu oleh khalayak ramai. Hajat
hidup orang banyak pun terpenuhi.
Inilah simulasi Tuhan
yang sangat kongkrit, ketika mengutus Jibril untuk menyampaikan kepada Muhammad
SAW; Bacalah dengan (menyebut) nama Tuahanmu Yang menciptakan.
Ayat al quran yang
pertama kali diwahyukan kepada Rasulullah SAW ini adalah bukan sekedar menerapkan
konsep membaca yang benar, akan tetapi juga merupakkan konsep pendidikan
manusia seutuhnya. Yakni sebuah konsep peradaban dan keberadaan manusia yang sesungguhnya.
Manusia membutuhkan daya tangkap dan pemahaman akan membaca.
Daya tangkap dan
pemahaman adalah bukan bagian potensi inderawi semata, akan tetapi adalah
bagian yang tersirat dalam akal fikiran dan hati. Disinilah wahyu dan ilham
sangat berperan. Potensi fisik non fisik, kompetensi natural supra natural dengan
sendirinya akan menyatu kedalam tatanan hidup dan kehidupan.
Dengan demikian peradaban
tidak akan pernah stagnan atau mandeg atau pun diam. Peradaban akan menunjukan
keberadaannya berdasarkan gerak keseluruhan proses manusia dalam membangun
kehidupannya sekaligus membangun, mengembangkan dan melestarikan lingkungan
dimana kita tinggal.
Pendidikan tanpa
melibatkan aspek yang demikian mustahil akan terciptanya pembangunan dan
peradaban yang benar. Disinilah mungkin banyak sekali umat manusia yang
beranggapan bahwa potensi dan kemampuan yang ada pada dirinyalah yang bisa
mengantarkan mimpinya menjadi kenyataan. Sepertinya mereka telah berbuat dengan
semestinya dan telah meyakini sebagai yang benar, padahal telah terjadi proses
paradoksi yang sistematis.
Maka tidaklah heran
jika banyak sekali mereka yang terjebak oleh alam fikirannya sendiri, sehingga
stress dan prustasi, sering dialaminya.
Ganja dan kokain bisa jadi disangkanya sebagai obat penenang dan
bahagia, padahal sangat nyata sebagai penghantar kekalutan, kebangkrutan,
ketersiksaan, dan kebuntuan.
Perilaku manusia
dalam berhalusinasi, berhayal dan berfantasi begitu kuat dan dekat dalam
membangun peradabannya. Dunia maya dan dunia cyber, sepertinya sebagai produk
manusia yang memuncak dan bergengsi. Sepertinya dunia literasi terlahir dari
proses yang demikian fana ini.
Dunia seolah-olah dan
seolah-olah dunia. Agar tidak terjebak pada seolah-olah dunia dan dunia
seolah-olah, mulailah membaca dengan atas nama Tuhanmu yang menciptakan.
Maka membaca dan
menulis yang demikian ini bisa dijadikan
sebagai pijakan awal umat manusia untuk meniti jembatan peradaban yang
sesungguhnya. Melalui dunia baca dan tulis yang dikenal sebagai dunia literasi,
dengan sendirinya menunjukan peradaban manusia yang akan penuh dengan warna dan
coraknya. Sehingga indah dalam pergerakannya dan indah dalam perjuangannya.
Meskipun ditempuh dengan memalui banyak kelokan dan tikungan yang tajam. Tapi
indah pada waktunya.
Perjuangan umat
manusia dalam menjalani kehidupannya, membutuhkan keterbukan nuraninya untuk
mendampingi alam pikirannya dalam mendapatkan banyak impian dan harapannya. Pijakan
akal dan naqli harus seimbang. Tanpa keseimbangan mustahil akan terjadi
keharmonisan hidup dan kehidupan, yang notabene akan mewujud sebagai
peradaban.
Dari sinilah dunia
pendidikan merintis dalam pembentukan konsep yang diinginkannya ,baik
pendidikan secara formal, non formal, maupun pendidikan in formal. Jenjang
pendidikan dari play group, Taman Kanak-kanak, Sekolah Dasar, Lanjutan sampai
ke Perguruan Tinggi (universitas) sebagai lembaga pendidikan formal,
membutuhkan progressivitas dalam berkonsep dan berkarya. Penegasan konsep dan
karya itu hanya bisa didapat melalui Literasi yang benar, yakni pemahaman
membaca dan menulis alam pikiran, hati, dan rasa.
Disinilah Negara dan
bangsa ini mengapa sangat berkepentingan untuk membuat system dan manajerial
kependidikan yang tepat guna (efisien) dan berdaya guna (efektif). Hal ini
diperlukan untuk memberi arahan dan pijakan yang tepat bagi peradaban bangsa
dan pendidikan yang berkarakter mulia. Oleh karenanya payung hukum sudah
semestinya dilahirkan melalui perenungan membaca kebutuhan secara paripurna.
Membaca yang paripurna ini, berdasarkan kalam Tuhan yaitu QS al alaq ayat 1
sampai 5, adalah bukan kebutuhan membaca sesaat dan terpenggal-penggal, dan
juga bukan membaca menurut alam pikirannya semata.
Membaca secara
sektoral adalah pemahaman menganalisa hanya untuk kepentingan ras, golongan,
gangster, atau mafia kepentingan. Biasanya kemampuan membaca seperti ini dapat
dilihat dari penglihatan yang hanya secara fisikal atau kebendaan yang sangat
terbatas. Boleh jadi konsep membaca yang seperti inilah yang telah menghantarkan
umat manusia mendapatkan hasil yang sifatnya hanya sementara, semu, temporal
dan seolah-olah.
Ayat 1-5 al quran
surat ala alaq, semoga mampu menjadi inspirasi bagi gerakan literasi yang terbimbing,
berkesinambungan, efisien dan efektif.
Madrasah, sebagai pendidikan
formal sudah saatnya mengambil alih peran ini. Demikian juga pendidikan non formal
yang diselenggarakan dalam masyarakat pun akan mendapatkan penularan konsep
yang posisitif, progressive, dan konstruktif. Demikian juga pendidikan in
formal yang berlangsung dalam keluarga, pun bisa bersinergi dalam mengembangkan
kemampuan baca dan tulis untuk menata dunianya masing-masing.
Madrasah pun dengan
sendirinya akan lebih baik dan memang lebih baik madrasah.
Kesimpulan ini terlahir
berdasarkan fakta dan data kebutuhan hajat hidup orang banyak dan banyak orang
yang akan mengembangkannya kedalam konsep kehidupan yang diinginkannya, yakni
menciptakan hidup yang sejahtera lahir dan bathin. Sebuah konsep yang berdamai
dengan segala kebutuhan hidup. Maka dengan sendirinya kehidupan yang aman dan
nyaman berlangsung sedemikian rupa, sehingga sanggup menjadi pedoman yang pasti
dan jelas.
Baca dan Tulis itu
memiliki fungsi sebagai :
2. Khazanah
Kesejahteraan
3. Khazanah
Karakter Bangsa